Selasa, 14 Agustus 2012

FULLDAY for LEARNING



FULLDAY for LEARNING

Tercatat sejak tahun 2002, Islamic Education Center (IEC) Al-Azhar mempelopori berdirinya Sekolah Islam dengan model Fullday School di Mojokerto dan sekitarnya.
Satu atau dua dekade yang lalu kita belum mengenal istilah fullday school atau fullday system. Barangkali istilah tersebut terdengar asing di telinga kita sehingga belum terpikirkan dalam benak kita gambaran tentang sekolah dengan konsep fullday system. Sekolah dari pagi hingga sore, pasti melelahkan, apalagi untuk anak-anak. Barulah beberapa tahun terakhir ini bermunculan sekolah-sekolah Islam yang menerapkan sistem fullday school. Anak-anak belajar di sekolah dengan materi pelajaran yang padat.
Menurut Siti Khabibah, S.Ag, M.Pd Kepala SD Islam Plus Al-Azhar, setidaknya ada tiga alasan yang mendasari lahirnya konsep fullday school.
Pertama, meminimalkan pengaruh dari luar terhadap anak sekolah. “Kita mensinyalir banyak masalah serius pada anak-anak karena terpengaruh dari lingkungan di luar sekolah dan rumah. Dan kebanyakan lingkungan luar tersebut membawa pengaruh yang negatif bagi anak-anak. Untuk itulah kita menerapkan fullday school untuk meminimalkan pengaruh negatif pada anak, termasuk televisi dan media lainnya,” jelasnya.
Kedua, dengan adanya sistem fullday school menjadi upaya untuk meningkatkan efisiensi waktu. Pada sekolah lain dengan sistem setengah hari, biasanya anak-anak sekolah sampai siang untuk mendapatkan pendidikan formal. Kemudian pada sore harinya mereka pergi ke masjid atau sekolah diniyah sore (TPA) untuk mendapatkan pelajaran agama secara khusus, atau ada juga yang mengikuti pembelajaran tambahan (les) di rumah. “Di sinilah letak efisiensi waktu yang kami maksud. Jika yang lain memisahkan antara waktu belajar formal dengan pendalaman materi agama, maka di Islamic Education Center (IEC) Al-Azhar semuanya bisa didapatkan di sekolah. Jadi, dalam sehari, siswa sudah memperoleh pelajaran formal maupun agama karena kami memberikan jam pelajaran agama yang biasa didapatkan di TPA atau pesantren. Dengan demikian, orang tua tidak perlu mengantar anak-anak ke TPA lagi karena pelajarannya sudah diberikan di sekolah,” terangnya lagi.
Ketiga, lanjut Habibah, menjawab kebutuhan orang tua yang sekarang ini rata-rata mempunyai kesibukan kerja baik di kantor maupun di rumah masing-masing. Dengan anak-anak seharian di sekolah untuk belajar, para orang tua tidak lagi direpotkan dengan urusan mengasuh anak, mengawasi, dan sebagainya. “Apalagi bagi orang tua yang tidak memiliki pembantu di rumah, pasti kerepotan. Karena itu, sebenarnya banyak orang tua yang diuntungkan dengan sistem fullday school ini. Di sekolah, mereka tidak perlu khawatir lagi dengan keselamatan anak dan apa saja yang dilakukan anak. Karena mereka di lingkungan sekolah, maka otomatis mereka disibukkan dengan aktivitas belajar dan diawasi oleh para guru.”

Kuncinya, Belajar yang Menyenangkan
Mungkin banyak di antara kita yang berpikir bagaimana dengan anak-anak sendiri, apakah mereka tidak capek dengan sekolah seharian penuh? Capek, bosan, jenuh, sudah menjadi konsekuensi logis dari aktivitas yang dilakukan terus-menerus. Dan bukan hanya anak sekolah saja yang bakal merasa capek dan bosan dengan belajar seharian penuh. Orang tua dan para pekerja yang bekerja seharian penuh sudah barang tentu capek.
Hal itu tidak disangkal oleh Habibah. Karenanya, dia tidak kaget lagi dengan komentar seperti itu. Namun, Habibah tetap bisa memahami bahwa kondisi fisik anak sangat mungkin mengalami rasa capek, lelah, dan bosan. “Solusinya, anak harus merasa enjoy, senang, dalam belajar di sekolah. kalau sudah merasa senang, rasa bosan dan jenuh bisa dihindari. Selain itu, guru-guru yang mengajar diharuskan memiliki metode pengajaran yang bervariasi dan menarik bagi anak. Ini terbukti di Islamic Education Center (IEC) Al-Azhar, meskipun sehari penuh tapi dengan metode belajar yang menyenangkan dan active learning, anak-anak tetap terjaga stamina dan semangatnya untuk belajar tanpa henti,” paparnya. Hal ini terlihat jelas dalam keseharian anak-anak seperti di SD Islam Plus Al-Azhar yang tetap tampak ceria dan menikmati waktu belajarnya.
Metode pendekatan yang digunakan untuk pembelajaran di sekolah biasa dengan fullday school juga berbeda. Habibah mengumpamakan anak yang belajar di fullday school ibarat orang yang makan di warung. Sekali masuk ke warung, pesan makanan dan langsung dihabiskan di sana, sehingga begitu keluar dari warung sudah dalam kondisi kenyang. Artinya, di sekolah dengan sistem fullday school, anak-anak masuk dari pagi hingga sore sudah belajar dengan tuntas. Apa yang harus dipelajari hari itu sudah diselesaikan semuanya di sekolah dan di rumah tinggal mengulang sekilas saja dan tidak perlu ikut lembaga bimbingan belajar (bimbel) atau les. Jadi, di fullday school, guru tidak boleh hanya “mengajar” tetapi juga harus “membelajarkan” anak. Pembelajaran di sekolah harus dilakukan dengan efektif dan tuntas.
Sementara di sekolah setengah hari (umum), biasanya anak-anak pulang ke rumah dengan membawa setumpuk PR dan tugas. Sehingga mereka harus mengikuti tambahan jam belajar di bimbel atau memanggil guru les privat. Kalau yang seperti ini, Habibah menyebutnya seperti orang kulakan (beli barang untuk dijual lagi), masih perlu mengolah lagi di rumah. “Jadi, mereka baru menerima materi pelajaran di sekolah, mereka belum dikatakan belajar. Setelah pulang sekolah baru mereka belajar di rumah dengan les atau ikut bimbel,” katanya.
Untuk mengatasi kejenuhan dan kelelahan anak dalam belajar, di SD Islam Plus Al-Azhar contohnya, anak-anak diberikan jeda waktu untuk istirahat pada setiap pergantian mata pelajaran. Waktu yang hanya sepuluh menit itu biasanya mereka gunakan untuk pergi ke kamar mandi, bermain, bahkan ada juga yang sempat jajan. Berbeda dengan SMP Islam Al-Azhar, tidak seperti adik-adik mereka, tidak ada waktu jeda pada setiap pergantian mata pelajaran. Mungkin karena faktor usia yang dipandang cukup mampu menyesuaikan dengan jadwal yang padat. Namun, anak didik SMP Islam Al-Azhar tetap bisa memanfaatkan waktu pergantian mata pelajaran dengan refreshing sebentar sembari menunggu guru datang.
Di SD Islam Plus Al-Azhar, anak-anak seharusnya tidak dituntut belajar di rumah seberat anak-anak sekolah setengah hari lainnya. Guru seharusnya tidak memberikan PR yang memberatkan, tetapi anak-anak diberi PR untuk melakukan kegiatan yang belum didapat di sekolah. Kegiatan itu antara lain shalat berjamaah, silaturrahmi, membantu orang tua dan sebagainya.
Proses belajar seoptimal mungkin dilakukan di sekolah. Dan di sekolah, Habibah mengatakan anak-anak tidak hanya menerima transfer ilmu tapi juga dituntun untuk memperolehnya sendiri, salah satunya dengan jalan praktikum. Metode penyampaian materi pelajaran kepada anak juga bervariasi dengan permainan misalnya, sehingga anak-anak menikmatinya. Guru tidak hanya bertindak sebagai pemberi materi, tapi sebagai fasilitator agar anak menguasai ilmu tanpa menggantungkan kepada pemberian guru semata tetapi juga mendorong anak untuk aktif belajar. []

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda